Example 728x250

Example 728x250
Opini

Paradoks Ketenangan: Mengapa Manusia Gelisah Saat Menemukan yang Mereka Cari?

15
×

Paradoks Ketenangan: Mengapa Manusia Gelisah Saat Menemukan yang Mereka Cari?

Share this article

Oleh: Wahyudi El Panggabean

Tidak ada yang lebih tidak tertahankan bagi manusia selain keadaan yang benar-benar tenang, tanpa gairah, tanpa urusan, tanpa hiburan, tanpa kekhawatiran.”

Ungkapan filsuf Blaise Pascal abad ke-17 itu hari ini justru menemukan panggung pembuktiannya yang paling nyata.

Manusia modern hidup dalam lingkaran paradoks yang melelahkan. Saat didera kesibukan dan tekanan kerja, bait-bait doa kita penuh dengan permohonan akan ketenangan. Namun, begitu ruang sunyi itu diberikan secara utuh, kegelisahan baru justru mendadak lahir dari dalam diri.

Mengapa manusia begitu rapuh di hadapan kesunyian? Mengapa ketenangan yang dikejar justru sering kali menjelma menjadi penjara psikologis yang menakutkan?

Secara psikologis, keadaan tanpa urusan dan tanpa hiburan memaksa manusia untuk berhadapan langsung dengan dirinya sendiri. Dalam psikologi eksistensial, momen sunyi bertindak seperti cermin raksasa yang menelanjangi segala kecemasan, ketakutan masa lalu, dan ketidakpastian masa depan.

Ketika stimuli eksternal dari gawai, pekerjaan, atau interaksi sosial dihentikan, otak kehilangan pengalih perhatian (distraction).

Akibatnya, pikiran bawah sadar mulai memunculkan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang berat: untuk apa saya hidup? Apa yang sudah saya capai? Kesunyian memicu kecemasan karena ia merubuhkan dinding ilusi bahwa kita selalu memegang kendali atas hidup kita.

Dari sudut pandang biologis, tubuh manusia sejatinya tidak dirancang untuk diam total dalam jangka panjang. Otak kita mengandalkan sistem penghargaan (reward system) yang diatur oleh neurotransmiter seperti dopamin.

Setiap kali kita menyelesaikan tugas, menerima notifikasi, atau memecahkan masalah, otak mendapat suntikan dopamin kecil yang menciptakan rasa puas.

Ketika seseorang berada dalam kondisi “benar-benar tenang tanpa gairah”, produksi dopamin ini menurun drastis. Tubuh mengidentifikasi penurunan ini sebagai kondisi bosan kronis.

Secara evolusioner, kebosanan adalah alarm biologis yang memaksa nenek moyang kita untuk bergerak mencari makan atau berburu demi bertahan hidup. Diam tanpa stimulasi dianggap oleh tubuh sebagai ancaman kepunahan.

Kondisi tanpa urusan ini juga mematikan mesin motivasi manusia. Teori Motivasi Intrinsik menyebutkan bahwa manusia membutuhkan tiga elemen dasar untuk merasa utuh: otonomi, kompetensi, dan keterkaitan.

Ketenangan yang ekstrem—yang digambarkan Pascal sebagai kondisi tanpa urusan—menghilangkan ruang bagi manusia untuk mengaktualisasikan kompetensinya. Tanpa adanya target untuk dicapai atau masalah untuk dipecahkan, dorongan berprestasi (need for achievement) menjadi tumpul.

Manusia yang tidak memiliki sesuatu untuk diperjuangkan akan segera kehilangan orientasi arah hidup, yang memicu munculnya gejala depresi ringan dan hilangnya keberartian diri.

Namun, Islam meletakkan perspektif yang sangat berbeda sekaligus menjadi jawaban atas paradoks ini. Dalam pandangan Islam, ketenangan sejati bukanlah kekosongan aktivitas atau ketiadaan urusan.

Ketenangan dalam Islam disebut sebagai tumaninah atau sakinah. Menariknya, ketenangan ini tidak diperoleh dengan cara melarikan diri dari realitas atau berdiam diri tanpa gairah.

Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Di sini, ketenangan dikaitkan erat dengan aktivitas spiritual yang aktif, yaitu dzikrullah (mengingat Allah).

Islam memandang bahwa kegelisahan manusia saat kondisi fisik mereka tenang terjadi karena ada ruang kosong di dalam ruhani yang belum terisi. Jiwa manusia memiliki kebutuhan inheren untuk terhubung dengan Penciptanya. Ketika fisik beristirahat namun ruhani kosong dari mengingat Allah, maka jiwa akan bergolak dalam kegelisahan yang hebat.

Lebih jauh, Islam melarang umatnya terjebak dalam kepasifan tanpa urusan. Rasulullah SAW mengajarkan sebuah prinsip produktivitas yang luar biasa:

Jika engkau telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain” (QS. Al-Insyirah: 7).

Ayat ini secara langsung mematahkan konsep ketenangan pasif ala Pascal. Islam memandang bahwa istirahat terbaik bagi seorang manusia adalah berpindah dari satu amal kebajikan ke amal kebajikan lainnya.

Ketenangan yang diridhai bukanlah ketenangan yang statis, melainkan ketenangan dinamis di mana fisik produktif bekerja, sementara hati tetap terpaut erat pada Allah SWT.

Kesimpulannya, kegelisahan manusia di dalam ketenangan bukanlah sebuah kesalahan biologis, melainkan sinyal bahwa kita diciptakan untuk bergerak dan berdampak.

Manusia adalah makhluk multi-dimensi. Kita membutuhkan tantangan untuk memuaskan psikologi kita, membutuhkan pergerakan untuk menjaga biologi kita, membutuhkan target untuk menghidupkan motivasi kita, dan membutuhkan zikir untuk menenteramkan ruhani kita.

Jangan pernah mengartikan ketenangan sebagai ketiadaan urusan. Kejarlah ketenangan di dalam sibuknya pengabdian, dan temukan kedamaian di tengah riuhnya perjuangan hidup.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *