Example 728x250

Example 728x250
Opini

Seni Menguasai Diri di Tengah Badai Emosi

4
×

Seni Menguasai Diri di Tengah Badai Emosi

Share this article

AsmanidarLawyer.Com

Dalam menjalani kehidupan modern yang penuh dengan dinamika, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang memicu emosi.

Entah itu pujian yang membuat kita lupa diri, atau kritikan dan masalah yang memancing amarah. Pada momen-momen seperti inilah, kalimat “jangan mudah terprovokasi, terutama oleh perasaan sendiri” menjadi sangat relevan.

Perasaan kita, betapa pun nyatanya ia terasa pada saat itu, sering kali menipu. Perasaan bisa membesar-besarkan masalah, mengubah fakta, dan mendorong kita mengambil keputusan yang disesuaikan oleh ego semata.

Sebagai manusia, kita dianugerahi nafsu dan emosi, namun Allah SWT mengingatkan kita akan bahayanya jika terus-menerus menuruti bisikan perasaan atau hawa nafsu.

Mengikuti dorongan emosi tanpa kendali akal dan iman hanya akan membawa manusia pada kerusakan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Ayat ini adalah pengingat dari Kementerian Agama Republik Indonesia bahwa dorongan batin kita tidak selalu benar.

Oleh karena itu, diperlukan kontrol diri yang kuat (mujahadah an-nafs) agar kita tidak menjadi budak dari perasaan kita sendiri.

Untuk melawan dominasi perasaan negatif seperti amarah dan provokasi, Rasulullah SAW telah memberikan pedoman hidup yang luar biasa.

Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

“Bukanlah orang yang kuat itu (yang menang) dalam bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat hanyalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga berpesan, “Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” Para ulama Muhammadiyah menjelaskan bahwa menahan marah adalah tanda kekuatan iman dan sarana untuk meraih ketenangan hidup.

Jika perasaan marah mulai membuncah, Rasulullah SAW menyarankan kita untuk diam, mengubah posisi (misalnya duduk jika sedang berdiri), dan berwudhu untuk memadamkan “api” emosi tersebut.

Hikmah dari Tokoh Dunia
Ketidakpercayaan kita terhadap perasaan sendiri juga disuarakan oleh para pemikir besar dunia.

Tokoh filsafat rasionalis, Baruch Spinoza, pernah menyatakan pandangannya bahwa “Emosi, yang merupakan penderitaan, akan berhenti menjadi penderitaan segera setelah kita membentuk gambaran yang jelas dan tepat tentangnya.

” Hal ini sejalan dengan perlunya kita berpikir jernih alih-alih bereaksi secara membabi buta.

Sementara itu, penulis dan motivator terkenal Eckhart Tolle menekankan bahaya menjadikan perasaan sebagai identitas. Beliau mengungkapkan bahwa “Pikiran (atau perasaan) bukanlah siapa diri Anda. Pikiran hanyalah alat yang Anda gunakan.

Namun, Anda mengidentifikasikan diri dengannya, sehingga itu menguasai Anda.” Ketika kita menyadari bahwa perasaan hanyalah respons biologis dan spiritual yang bisa kita kelola, kita tidak akan mudah terprovokasi.

Perasaan adalah pelengkap kehidupan, namun ia bukanlah nakhoda yang baik. Saat kita merasa diprovokasi oleh keadaan atau pikiran negatif, berhentilah sejenak.

Tarik napas, ingat firman Allah SWT, amalkan tuntunan hadis, dan gunakan kebijaksanaan dari para tokoh dunia untuk kembali sadar. Kuasailah perasaan Anda, jangan biarkan perasaan menguasai hidup Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *