Oleh: Asmanidarlawyer
Pernyataan Mario Teguh mengenai perlakuan manusia yang digerakkan oleh kepentingan membuka topeng realitas sosial kita.
Fakta di lapangan menunjukkan, hukum timbal balik dalam masyarakat tidak selalu berporos pada kebaikan budi.
Relasi antarmanusia sering kali runtuh pada kalkulasi utilitas dan untung-rugi.
Mengapa manusia berlaku demikian? Jawabannya berakar kuat dalam dimensi psikologis dan biologis.
Dari sudut pandang psikologi sosial, manusia dikondisikan untuk melakukan pertukaran sosial (social exchange). Interaksi hanya akan dijaga jika memberikan keuntungan dan menekan biaya emosional maupun materi.
Begitu keuntungan itu hilang, jarak psikologis langsung tercipta. Secara biologis, neurosains menunjukkan bahwa otak manusia dirancang untuk bertahan hidup.
Sistem limbik dan jalur dopamin kita merespons stimulan yang memberikan rasa aman, sumber daya, atau status. Kepentingan, pada akhirnya, adalah bahan bakar evolusioner manusia.
Bagi seorang jurnalis investigasi, fenomena transaksional ini adalah makanan sehari-hari. Di ruang redaksi dan lapangan, relasi interpersonal hampir selalu berbenturan dengan agenda tersembunyi.
Narasumber atau whistleblower kerap mendekati jurnalis bukan karena simpati. Mereka bergerak karena ketakutan, ancaman, atau keinginan menjatuhkan lawan.
Begitu kepentingan mereka terpenuhi, atau saat jurnalis tidak lagi menguntungkan, akses informasi bisa seketika diputus. Jurnalis investigasi wajib menjaga skeptisisme agar tidak terjebak manipulasi topeng kebaikan ini.
Namun, Islam menawarkan antitesis melalui konsep ihsan atau berbuat baik tanpa pamrih. Al-Qur’an menegaskan agar manusia bergerak bukan karena mengharap balasan atau terima kasih makhluk (QS. Al-Insan: 9).
Orang yang “aslinya baik” adalah mereka yang memiliki keistiqomahan akhlak. Mereka memuliakan sesama bukan karena fungsi atau cuan, melainkan karena ketundukan kepada Sang Pencipta.
Kesadaran ini tidak boleh membuat kita sinis pada dunia. Ini adalah ruang untuk memerdekakan batin dari ekspektasi berlebihan terhadap manusia.
Sikap orang lain adalah urusan kebutuhan mereka, bukan ukuran cacatnya kebaikan kita. Menjadi pribadi yang tulus di tengah dunia yang transaksional adalah kemenangan spiritual tertinggi.
“Manusia tidak dihakimi dari apa yang mereka peroleh, melainkan dari apa yang mereka berikan dan ketulusan hati yang menyertainya.” — Albert Einstein
Keywords: Perlakuan sosial, kepentingan manusia, psikologi evolusioner, jurnalisme investigasi, perspektif Islam, keaslian akhlak, Asmanidarlawyer













