Example 728x250

Example 728x250
Opini

Ketika Pelarian dijadikan Tameng untuk Istirahat dan Menunda

6
×

Ketika Pelarian dijadikan Tameng untuk Istirahat dan Menunda

Share this article

Oleh: AsmanidarLawyer

Bagi seseorang dengan tujuan hidup yang jelas, istirahat adalah suatu keharusan untuk merawat energi.

Tetapi, bagi orang yang tidak punya prinsip dalam hidup, menunda pekerjaan acap kali disebut istirahat. Padahal, itu hanya pelarian.

Hari ini, kita menyaksikan sebuah ironi yang dipertontonkan secara vulgar di media sosial. Marak fenomena pejabat publik hingga kaum profesional yang hobi pamer aktivitas healing dan pelesiran, justru di saat rapor kinerja mereka merah dan tugas-tugas penting terbengkalai.

Urusan rakyat atau klien yang mandek didepak dari prioritas, demi mengejar validasi kebahagiaan semu di tempat wisata.

Terus terang, di tengah kesibukan masing-masing: saya, anak, besan, cucu dan menantu, memanfaatkan momen Final Piala Dunia 2026 untuk berwisata ke Negeri Seberang, Kuala Lumpur.

Even wisata berlibur tiga hari-tiga malam ini, benar-benar memberi makna mengagumi anugerah Allah. Ternyata, begitu besarnya kontribusi kedamaian bathin, jika liburan benar-benar dijadikan medium peningkatan spritual.

Tetapi, mungkin, bagi sebagian orang,  yang menjadikan (berwisata atau berlibur) dijadikan pelarian berkedok mencari kebahagiaan dan represing, tentu makin stres, dan kebahagiaan kian jauh.

Pentingnya menggunakan waktu secara efisien telah diperingatkan dengan tegas di dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Ashr ayat 1-2:

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”

Ayat ini merupakan alarm keras bahwa waktu yang terbuang tanpa amal produktif hanya akan berujung pada penyesalan.

Ketika kita menunda sebuah pekerjaan dengan dalih mencari suasana baru, kita sebenarnya sedang menjerumuskan diri ke dalam kerugian tersebut.

Penulis terkenal Napoleon Hill juga mengingatkan: “Penundaan adalah pembunuh peluang dan pencuri waktu.”

Ada perbedaan mencolok antara istirahat dengan membuang-buang waktu yang sesungguhnya pelarian dari menghindari kreativitas.

Istirahat sejati adalah jeda setelah keringat bercucuran menyelesaikan tugas. Sebaliknya, pelarian terjadi ketika seseorang sengaja menjauh dari tantangan berpikir dan bertumbuh.

Islam melarang keras sikap menunda-nunda melalui prinsip manajemen waktu yang efisien. Dalam Surah Al-Insyirah ayat 7, Allah SWT berfirman:

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

Ayat ini mendidik kita untuk bergerak secara berkesinambungan. Istirahat bukanlah ruang kosong tanpa arti untuk bermalas-malasan, melainkan peralihan dari satu aktivitas produktif ke aktivitas produktif berikutnya.

Menjadikan liburan sebagai topeng penundaan—terutama oleh mereka yang memegang amanah publik atau profesional—hanya akan melahirkan siklus kecemasan baru. Semakin lama kita berlari dari kenyataan, semakin berat pula beban yang menanti di garis akhir.

Jika kita ingin meraih kebahagiaan yang hakiki, kuncinya adalah keberanian menghadapi kenyataan. Kebahagiaan tidak ditemukan dalam pelarian, melainkan dalam progres dan pencapaian.

Ketika kita berani mendisiplinkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum menikmati waktu luang, saat itulah liburan menjadi sebuah penghargaan yang layak, bukan sekadar pelarian yang menyiksa batin.

Oleh karena itu, instansi pemerintah dan lembaga profesional tidak boleh lagi menutup mata terhadap budaya kerja destruktif ini.

Sudah saatnya pimpinan lembaga memperketat sistem pengawasan kinerja (KPI) dan tidak menoleransi aparatur maupun staf yang menelantarkan kewajiban demi agenda pribadi berkedok refreshing.

Setiap instansi wajib membangun ekosistem kerja yang transparan, di mana hak istirahat hanya diberikan sebagai penghargaan atas tuntasnya sebuah tanggung jawab.

Bukan sebagai pelarian dari ketidakmampuan menyelesaikan tugas. Kita butuh sistem yang menghargai waktu, bukan sistem yang memaklumi kelalaian.

Sudahi segala drama pembenaran atas rasa malas yang membelenggu. Singkap tameng kepalsuan yang selama ini Anda sebut sebagai “istirahat,” lalu bangkitlah dengan komitmen penuh untuk menaklukkan setiap tanggung jawab.

Ingatlah bahwa waktu yang efisien adalah modal utama seorang profesional sejati; hargai ia sebelum kesempatan Anda terkikis habis oleh penyesalan yang terlambat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *