Example 728x250

Example 728x250
Serba Serbi

Tidak Ada Sekolah yang Mengajarkan Mencintai Tanpa Pamrih, Kecuali Rahim Seorang Ibu

5
×

Tidak Ada Sekolah yang Mengajarkan Mencintai Tanpa Pamrih, Kecuali Rahim Seorang Ibu

Share this article

Tak ada sekolah yang mengajarkan cara mencintai tanpa syarat, kecuali rahim seorang ibu.

Kalimat ini tidak sekadar metafora, melainkan pengakuan sunyi tentang asal mula kemanusiaan kita.

Di sana, sebelum dunia menamai kita dengan identitas, sebelum masyarakat menuntut peran dan prestasi, kita telah lebih dulu diterima apa adanya.

Rahim menjadi ruang pertama di mana cinta tidak menunggu kelayakan. Ia hadir sebelum kita mampu membalas, bahkan sebelum kita memahami arti hadir itu sendiri.

Secara psikologis, pengalaman awal ini menanamkan jejak terdalam tentang rasa aman, keterhubungan, dan keberadaan yang diakui.

Secara sosial, ia menjadi fondasi tak terlihat yang kelak memengaruhi cara kita mencintai, memberi, dan memaknai hubungan.

Di luar rahim itu, dunia bekerja dengan aturan yang berbeda. Cinta sering kali diperdagangkan dengan syarat, diukur dengan timbal balik, dan dikaitkan dengan fungsi. Kita belajar bahwa untuk dicintai, kita harus menjadi sesuatu, berguna, berprestasi, atau setidaknya tidak merepotkan.

Di sinilah luka-luka halus mulai terbentuk, luka yang tidak selalu berdarah tetapi memengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan orang lain.

Tulisan ini mengajak kita kembali menelusuri ingatan terdalam tentang cinta tanpa syarat, bukan untuk hidup di masa lalu, melainkan untuk menyadari betapa jarangnya pengalaman itu dan betapa berharganya jika kita mampu menghidupkannya kembali dalam kehidupan dewasa yang sering terasa kering.

1. Rahim sebagai ruang pertama penerimaan

Rahim adalah tempat di mana kita ada tanpa perlu membuktikan apa pun. Tidak ada seleksi, tidak ada penilaian, hanya keberlanjutan hidup yang dijaga dengan penuh kesabaran. Kesadaran ini mengingatkan kita bahwa nilai diri sejati tidak lahir dari pencapaian, melainkan dari fakta sederhana bahwa kita ada dan layak dirawat sejak awal.

2. Cinta tanpa syarat dan rasa aman batin

Psikologi modern menyebut rasa aman sebagai fondasi kesehatan mental. Rahim ibu adalah manifestasi paling purba dari rasa aman itu. Dari sanalah kita belajar, secara bawah sadar, bahwa dunia bisa menjadi tempat yang ramah. Ketika rasa aman ini terluka, kita menghabiskan hidup untuk mencarinya kembali dalam relasi, pekerjaan, atau pengakuan sosial.

3. Dunia luar dan cinta bersyarat

Setelah lahir, kita berhadapan dengan realitas bahwa cinta sering memiliki harga. Nilai rapor, status sosial, dan citra diri menjadi mata uang penerimaan. Kontras ini menciptakan kebingungan batin, karena jiwa pernah mengenal cinta yang tidak meminta apa pun. Kesadaran akan perbedaan ini membantu kita memahami mengapa banyak orang merasa kosong meski tampak berhasil.

4. Ibu sebagai guru tanpa kurikulum

Tidak ada silabus, tidak ada teori, tetapi ibu mengajarkan cinta dengan kehadiran. Melalui kelelahan, pengorbanan, dan doa yang tak terdengar, ia memperlihatkan bahwa mencintai berarti bertahan bahkan ketika tidak dipuji. Pelajaran ini jarang disadari, tetapi membentuk cara kita memahami makna memberi.

5. Jejak rahim dalam relasi dewasa

Cara kita mencintai pasangan, sahabat, dan bahkan diri sendiri sering kali merupakan gema dari pengalaman awal bersama ibu. Ketika kita menuntut terlalu banyak atau takut ditinggalkan, bisa jadi kita sedang berusaha mengulang rasa aman yang pernah kita kenal. Menyadari pola ini membuka ruang penyembuhan yang lebih jujur.

6. Masyarakat dan krisis empati

Dalam masyarakat yang kompetitif, cinta tanpa syarat dianggap naif. Akibatnya, empati menipis dan relasi menjadi transaksional. Mengingat kembali rahim sebagai asal cinta mengingatkan kita bahwa empati bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang menjaga kemanusiaan tetap utuh.

7. Mencintai diri sebagai kelanjutan rahim

Banyak orang kesulitan mencintai diri sendiri karena lupa bahwa mereka pernah dicintai tanpa syarat. Mencintai diri bukanlah kesombongan, melainkan upaya menghidupkan kembali sikap menerima yang pernah kita terima. Di sini, penyembuhan batin menemukan pijakannya.

8. Ibu dan paradoks ketidaksempurnaan

Ibu bukan sosok tanpa salah, tetapi cintanya sering melampaui keterbatasan itu. Paradoks ini mengajarkan bahwa cinta sejati tidak menuntut kesempurnaan. Dalam penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, kita belajar memaafkan dan bertumbuh bersama.

9. Menghadirkan rahim dalam dunia yang keras

Kita mungkin tidak bisa kembali ke rahim, tetapi kita bisa menghadirkan semangatnya dalam sikap hidup. Dengan mendengarkan tanpa menghakimi, membantu tanpa pamrih, dan hadir tanpa syarat, kita menjadi ruang aman bagi sesama. Di sinilah cinta menemukan bentuk dewasanya.

10. Warisan cinta yang paling sunyi

Rahim ibu tidak meninggalkan sertifikat, tetapi meninggalkan warisan yang jauh lebih abadi. Warisan itu hidup dalam cara kita memperlakukan manusia lain. Ketika kita memilih mencintai tanpa syarat, kita sedang meneruskan pelajaran paling awal tentang menjadi manusia seutuhnya.

Jika cinta tanpa syarat hanya pernah kita alami di rahim seorang ibu, beranikah kita bertanya pada diri sendiri apakah selama ini kita sudah cukup menghadirkan cinta itu kepada orang lain, atau justru kita sibuk mencarinya tanpa pernah benar-benar memberi?

Sumber: Sejarah Ulama (FB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *