Example 728x250

Example 728x250
Opini

Suara Haru, Tepian Sungai Batangtoru…

9
×

Suara Haru, Tepian Sungai Batangtoru…

Share this article

Catatan: Esi Br. Panggabean

MUNGKIN, tidak banyak orang yang mengenal Batangtoru_sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan_berjarak lebih kurang 400 km dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Ayah saya_Wahyudi El Panggabean_dilahirkan dan dibesarkan di Kota Kecamatan Batangtoru.  Ayah saya, merantau ke Riau dan menikahi putri Riau,  kemudian menetap di Riau sejak tahun 1984.

Saya putri bungsu dari tiga bersaudara.  Ayah kerap membawa kami sekeluarga pulang ke kampungnya.

Pulang ke Batangtoru selalu menjadi momen yang paling saya tunggu-tunggu. Batang Toru memiliki demografi alam yang aduhaiii…

Sungai yang luas dan deras dengan air yang jernih, dan ratusan hektare sawah yang mampu menopang kebutuhan pangan seluruh kecamatan, bahkan lebih.

Ketika saya masih kecil dulu, saya selalu bertanya pada ayah, ‘Kenapa banyak sekali pecahan beling di pasir dekat rumah nenek, yah?’

Saya selalu memerhatikannya tiap malam dengan cahaya lampu yang samar-samar, butiran pasir di kaki saya selalu berkerlap-kerlip, seperti puing-puing kaca yang pecah.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mengetahui, bahwa puing kaca yang berkerlap-kerlip di pasir rumah nenek adalah batuan putih berurat emas atau berurat kaca transparan.

Adanya batuan ini adalah satu tanda awal bahwa tanah ini mengandung emas.

Tahun 2012, PT. Agincourt Resources (PT. AR), perusahaan milik Hongkong yang berkerjasama dengan kontraktor Australia, Leighton, memulai operasi Tambang Emas Martabe di Desa Aek Pining, Batang Toru.

Kapasitas produksi pertambangan ini tidak main-main, lebih 5 juta ton bijih pertahun untuk memproduksi 300.000 ounce emas dan 2-3juta ounce perak pertahun.

Pertanyaannya, bagaimana kondisi kampung saya setelah tambang ini berdiri?

Di awal kehadirannya, PT. AR berhasil mendongkrak perekonomian masyarakat Batangtoru, perekonomian berkembang dengan masuknya pekerja asing.

Perekonomian Batangtoru berputar dengan cepat dibawa oleh PT. AR sebagai porosnya. Saya dan kakak tidak lagi bisa membeli sepiring sate di pasar dengan harga lima ribu rupiah seperti sebelum-sebelumnya, harga-harga naik.

PT. AR seolah membawa harapan-harapan baru bagi masyarakat Batang Toru.

Harapan-harapan segera tersusul kemarahan dan kekecewaan masyarakat.

Masih di tahun yang sama dengan awal operasinya, ratusan masyarakat Batang Toru tumpah ruah di sepanjang jalan menuntut PT. AR untuk berhenti membuang limbahnya ke sungai.

Tuntutan masyarakat kali itu cuma satu, cabut izin AMDAL yang diberikan pada PT. AR.

Dijelaskan, dasar hukum penanaman pipa dan penyaluran limbah ke sungai adalah keputusan Bupati Tapsel No 53/KPTS/2007 diamini lagi lewat persetujuan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dari Komisi Penilai Amdal Daerah (KPAD) Tapsel.

Disusul surat bupati pada 29 Juni 2010, yang diikuti persetujuan dari KPAD tentang revisi rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada PT AR.

Warga Batang Toru sebelumnya tidak pernah tahu, sungai yang deras dan jernih, sumber penghidupan puluhan ribu jiwa kemudian dijadikan tempat pembuangan limbah.

Di luar masalah pembuangan limbah, pun masih banyak warga yang merasa dicurangi karena tanah milik leluhur mereka diambil alih begitu saja sebagai lahan pertambangan.

Mereka tidak dapat menuntut ganti rugi, karena minimnya bukti kepemilikan dan absennya pemerintah dalam melindungi hak-hak warga atas tanah mereka.

Toh, hingga kini–6 tahun setelah tambang beroperasi dan banyaknya penolakan dari warga, alat-alat berat masih terus mengeruk bumi Batang Toru.

Kawasan permainan saya dan sepupu-sepupu sebaya adalah kawasan persawahan Pulo Godang, terletak di Desa Telo, sawah terbentang mencapai 300 hektare lebih, menopang kebutuhn pangan warga hingga ke luar Batang Toru.

Salah satu yang dikenal akrab oleh keluarga kami adalah Bapak Kepala Desa, yang selalu istimewa di mata saya waktu kecil, karena dia memiliki usaha penggilingan padi di belakang rumahnya.

Dengan mesin penggiling sederhana, dia dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, juga membantu masyarakat Desa Telo untuk mengembangkan produksi beras mereka.

Baru kemarin saya tahu, kawasan persawahan Pulo Godang telah luluh lantak, diterjang jebolnya bendungan irigasi akibat bencana banjir besar yang turut merobek tebing area persawahan bagian bibir pantai sungai 3 tahun silam.

Lebih dari seribu ton potensi panen padi lenyap, 500 KK menjadi pengangguran. Menurut Bapak Kepala Desa, warga desa tidak mempunyai keahlian untuk menanam padi darat.

Hanya itu yang mereka tahu.

Lagi-lagi, bencana ini adalah bayaran atas kebutuhan produksi si tambang emas.

PT. AR sudah berbaik hati, menampung ribuan warga Batang Toru untuk bekerja di perusahaan mereka.

Membangun jembatan pasca banjir menerjang. Masyarakat kini hanya bisa diam.

Tapi yang terlihat di balik kacamata saya adalah sebuah penjajahan.

Perusahaan asing telah terlalu gampang berdiri mengangkang di atas bumi pertiwi. Ribuan pemuda Batangtoru memang tidak menganggur, mereka menjadi buruh di negeri nenek moyangnya sendiri.

Mereka dipekerjakan oleh orang asing entah siapa yang tak tahu-menahu soal riwayat tanah Batangtoru: menjadi supir truk tambang, bagi warga yang tak punya pendidikan tinggi, itu sudah hebat.

Jangan pernah bermimpi jadi tenaga ahli, apalagi mengecap 5juta ton lebih bijih yang mereka produksi.

Toh, masyarakat sudah berpuas hati. Ditipu mentah-mentah di atas tanah sendiri.

Mereka bersyukur atas bantuan kecil dari PT. AR, pemuas hati yang takkan pernah abadi.

PT. AR telah membantu kehidupan beberapa kalangan tertentu, memperkaya para stake holder terkait, dan memperbodoh masyarakat kecil.

Kondisi ini terlanjur dianggap benar, justru disyukuri oleh warga setempat.

Kalau boleh saya berpendapat, ketika alam dieksploitasi dengan ketamakan, berdirinya pertambangan emas yang luarbiasa megah tidak akan berlangsung lama.

Jatuhnya perusahaan pertambangan di Indonesia, seperti PN Timah di Belitung, tentu masih membekas di ingatan masyarakat daerahnya. Kehidupan kemudian seperti mati.

Karena warga terlanjur bergantung pada sesuatu yang jelas tidak abadi.

Sekali lagi, kalau boleh saya sedikit membayangkan, apa yang tersisa bila PT. AR kelak tumbang dan mati?

Yang tersisa hanya sungai tercemar dan sawah yang telah luluh lantak.

Oh iya, juga ribuan buruh yang kemudian menganggur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *