Oleh: Asmanidar, S.H.
Bulan silam, di tengah padatnya aktivitas dunia hukum, saya memilih menepi sejenak bersama kedua putri dan menantu.
Langkah kami tertuju pada surga tersembunyi di Sumatera Barat: Kawasan Wisata Alahan Panjang, Kabupaten Solok.
Menghabiskan waktu selama dua malam di sebuah villa tepi danau yang sejuk menghadirkan kembali arti kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sederhana yang lepas dari hiruk-pikuk kota, dirajut dalam balutan tawa hangat bersama orang-orang terkasih.
Alahan Panjang, yang sering dijuluki “Eropa tanpa Visa”, menyuguhkan hawa dingin berkabut dan hamparan air yang tenang. Salah satu momen ikonik yang paling berkesan bagi kami adalah saat berpetualang menyusuri pinggiran danau menggunakan mobil tua Jeep Willis legendaris.
Deru mesin klasik di tengah hamparan lanskap hijau memberikan sensasi nostalgia yang tiada duanya. Angin gunung yang berembus lembut seakan menyapu seluruh penat, menyisakan ruang bagi jiwa untuk merasa tenang dan utuh kembali.
Menatap pemandangan itu, ingatan saya langsung tertuju pada kutipan indah tentang pesona alam dari pujangga ternama:
“Alam tidak pernah terburu-buru, namun segalanya dapat terselesaikan tepat waktu.”
Hamparan riak air dan keteguhan bukit di Alahan Panjang seolah menjadi saksi betapa sempurnanya arsitektur alam yang telah diciptakan untuk manusia.
Sebagai seorang Muslim, menikmati keindahan ini bukan sekadar urusan rekreasi mata. Ini adalah perjalanan spiritual untuk mentadaburi kebesaran Allah SWT. Di tepi danau ini, lisan kami tak henti mengagungkan-Nya.
Hal ini selaras dengan sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan kita bahwa estetika alam raya adalah cerminan dari sifat-Sifat Allah Yang Maha Indah. Mensyukuri nikmat tersebut berarti kita harus membuka hati, merasakan kehadiran-Nya melalui embusan angin, jernihnya air danau, serta hangatnya kebersamaan keluarga yang diberikan secara gratis.
Liburan singkat dua malam ini mengajarkan kami bahwa kebahagiaan tidak melulu tentang pencapaian materi atau memenangkan perkara di pengadilan.
Kebahagiaan sejati hadir saat kita mampu meluangkan waktu bersama keluarga, menyatu dengan alam, dan pulang membawa hati yang penuh dengan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Alahan Panjang telah menorehkan cerita indah yang akan selalu kami kenang selamanya.***













