Tingkat kecerdasan yang tinggi sering menempatkan seseorang pada jarak tertentu dari keramaian.
Bukan karena ia tidak mampu berbaur, melainkan karena pikirannya bergerak di wilayah yang tidak selalu mudah dijembatani oleh percakapan sehari hari.
Ia membaca lapisan makna di balik setiap percakapan, merasakan ketidaksinkronan kecil yang bagi sebagian orang tidak berarti apa apa.
Dalam hening itulah ia menemukan ruang untuk memahami dunia dengan cara yang lebih dalam, seolah keheningan menjadi buku yang terus terbuka.
Namun, jarak itu bukan semata ketidakmampuan. Sering kali mereka yang berpikir lebih tajam membawa kerinduan untuk menemukan ritme yang sama pada orang lain.
Mereka ingin terhubung, tetapi kualitas hubungan lebih penting daripada kuantitas. Mereka mendambakan dialog yang jernih dan tulus, bukan sekadar pertukaran kata.
Di tengah keramaian, mereka dapat merasa lebih sunyi daripada ketika sendirian, sebab kehadiran fisik tidak selalu sejalan dengan perjumpaan batin.
Ironisnya, kecerdasan yang mereka miliki justru membuat mereka lebih sensitif terhadap kompleksitas manusia.
Mereka memahami kontradiksi dalam diri sendiri dan orang lain, serta memandang dunia dengan kejujuran yang kadang menyakitkan.
Maka kesunyian sering dipilih sebagai tempat untuk merawat kejernihan pikiran, sambil tetap menyimpan harapan bahwa suatu hari mereka menemukan jiwa yang dapat berjalan berdampingan dalam kedalaman yang sama.
Sumber:fb













