By: Wahyudi El Panggabean
Di era sebagian orang selalu menjadikan agama sebagai tameng, ungkapan Penyair Rusia, Leo Tolstoi, terdengar menohok:
“Jangan bicara soal agama dengan saya. Tunjukkan saja prilakumu, sesuai agama yang kau anut”.
Ternyata, karakter lebih dibutuhkan ketimbang kompetensi. Apalagi sekadar bacot…
Di tengah gencarnya saling klaim kebenaran di ranah publik, jadi teringat ungkapan seorang Ulama Besar, Jalaluddin Rumi:
“Tidak sekadar halal & haram. Ada satu lapangan, disitulah kita bertemu. Lapangan itu bernama: Kebaikan…”
Prof. Jefrey Lang (seorang mualaf), Guru Besar Matematik, Universitas Purdue, AS menganalisis isi Al Quran.
Ternyata, hanya 3 persen tentang fikih (aturan). Bayangkan, hanya 3 persen isi Al Quran, tentang: larangan, halal & haram.
Selebihnya, tentang hubungan kepada Allah, perbaikan ahlak dan untuk saling mencintai sesama.
Jadi, jika hanya 3 persen isi Al Qur’an tentang fikih, bukankah metode dakwah sebaiknya diarahkan pada upaya perbaikan akhlak dan hubungan di sesama?
Tetapi si Penyeru, harus lebih dulu memperbaiki ahlaknya ‘kan? Berbuat baik, itulah kuncinya.
Kebaikan, penyelaras sikap kita merespon kehidupan. Kebaikan menjadi pondasi segala keberhasilan. Kesuksesan.
Jika seseorang ingin sukses, dia harus baik. Karena tidak ada kekayaan tanpa didasari kebaikan. Kebaikan itu, mesti mewujud dalam tindakan.
Jika di area kecil keluarga, misalnya, muncul seorang pelopor kebaikan, seisi keluarga akan membaik.
Aroma kebaikan itu akan menjalar ke rumah sebelah dst. Kebaikan akan menular ke segala penjuru…
Akan lebih arif ‘tuk menganut sebuah mazhab sederhana bahwa dakwah diawali oleh perbaikan moral si Pendakwah.
Selanjutnya: “Serulah ke jalan TuhanMu dengan cara hikmah dan baik. Bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS An Nahl:125).









